Haruskah Buruh Tetap Kerja Meskipun Gajian Telat? Begini Solusinya!

kerja lembur tapi tidak di bayar
Sumber gambar : pexels.com
Setiap pekerjaan tentu saja memiliki sisi positif serta negatifnya. Sama halnya dengan bekerja sebagai buruh pabrik. Bekerja menjadi buruh pabrik biasanya mengharuskan kita untuk bekerja mengunakan otot. 

Meskipun tidak semua seperti itu, contohnya saya. Saya yang bekerja di bagian admin, tidak terlalu sering mengunakan otot melainkan lebih banyak mengunakan pikiran. Apakah lebih mudah?

Saya kira tidak, bekerja sebagai admin produksi sama-sama memiiki hal positif dan negatif. Jika yang bekerja mengunakan otot, akan terasa lelah di tenaga sedangkan untuk pekerjaan admin yang berat di pikiran. Dan menurut saya kita tetap sama-sama menjadi buruh juga.

Hal yang sama yang akan dirasakan oleh buruh pabrik adalah tekanan dan tuntutan dari atasan. Kita diharuskan bekerja keras agar tercapai target yang diinginkan. Lebih dari itu, pabrik juga acap kali mengharuskan pekerjanya untuk bekerja lembur.

Dengan kerasnya perjuangan kita bekerja sebagai buruh, terkadang hal yang sudah kita lakukan dengan ikhlas, ternyata tidak setimpal dengan harga yang kita dapatkan. Seperti keterlambatan penerimaan gaji melebihi jadwal.

Dulu saya sering mengalami hal ini di perusahaan saya bekerja. Kita yang sudah susah payah bekerja dengan memenuhi kewajiban bahkan sampai lembur juga, tapi justru perusahaan yang tidak konsisten dengan kewajibannya. Kita dituntut tetap bekerja dan lembur seperti biasanya namun gaji masih belum keluar dengan semestinya.

Alasan yang diberikan perusahaan bermacam-macam, terkadang karena perubahan jadwal shift yang jadi alasan keterlambatan gaji. Terkadang juga menyalahkan terlambatnya menyerahkan file gaji karyawan ke pihak bank.

Meskipun gaji kita tetap terbayarkan dalam satu hari atau 2 hari kedepan, tapi keterlambatan tersebut akan berdampak banyak bagi kita kaum buruh. Terkadang kita sudah merencanakan secara matang sebelum gaji itu keluar. Ada juga yang sudah menjanjikan untuk beli sesuatu ternyata tidak jadi karena keterlambatan tersebut.

Memang disaat itu, Personalia perusahaan masih mengunakan sistem manual dalam absensi dan perhitungan gaji karyawan. Tentu sangat wajar jika dalam pengerjaan secara manual akan berdampak pada perhitungan yang krang akurat, dari kesalahan memasukkan potongan, kesalahan absensi dan lain sebagainya.

Jadi sebagai karyawan yang bijak, saya harus selalu menghitung dan mengakumulasi tentang absensi saya pribadi, terutama perhitungan lembur kerja. Tentu saya tidak ingin jika gajian yang harusnya bertambah dengan adanya lembur 10jam selama sebulan ini, ternyata hanya terbayarkan 7 jam saja.

Tentu kita butuh bukti kuat untuk claim kesalahan gaji tersebut, makanya perlu kita catat secara manual di buku catatan (biasanya calender) agar jika ada kesalahan semacam ini saya bisa menuntut hak dengan bukti yang autentik.

software payroll
Sumber gambar : pexels.com
Tapi sekarang Alhamdulillah, sudah tidak pernah terlambat lagi gajian tiap bulan. Hal ini dikarenakan perusahaan sudah mengunakan sistem otomatis dengan menggunakan Software Payroll.

Dengan software Payroll tersebut, perusahaan atau HRD tidak perlu lagi kualahan setiap kali menghitung gaji karyawan secara manual. Karena Aplikasi payroll sudah dilengkapi perhitungan yang akurat dari data absensi, lembur, cuti, pajak dan tunjangan yang dikemas sangat lengkap dan fleksibel.

Dari cerita saya ini, ada hal yang perlu diperhatikan terutama bagi perusahaan yang memperkerjakan buruh dalam proses produksi. Perusahaan harus menjaga hak-hak mereka terutama dalam urusan gaji.

Selain upah yang harus sesuai dengan kerjaannya juga seinimal mungkin jangan ada keterlambatan dalam pembayaran gaji. Karena bagi kami (buruh) terlambatnya gaji, juga bisa mematikan segi ekonomi. Karena tidak sedikit dari buruh yang bergantung pada pembayaran dihari tersebut untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Perlu diketahui juga, perusahaan akan mengalami denda jika terjadi keterlambatan pembayaran gaji. Seperti isi dari Pasal 18 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan (PP Pengupahan) yaitu pengusaha wajib membayar upah pada waktu yang telah diperjanjikan antara pengusaha dengan pekerja/buruh.

Namun apabila tanggal yang telah disepakati dalam perjanjian jatuh pada hari libur atau hari yang diliburkan, pelaksanaan pembayaran upah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Menurut Pasal 20 PP Pengupahan, upah pekerja/buruh harus dibayarkan seluruhnya pada setiap periode dan per tanggal pembayaran upah.

Dengan memahami hal tersebut, buruh akan bekerja sesuai standart jika hak-haknya juga terpenuhi dengan semestinya.

Semoga bermanfaat


Haruskah Buruh Tetap Kerja Meskipun Gajian Telat? Begini Solusinya!